Identitas Mayat Perempuan dalam Karung di Kediri Terungkap

Identitas mayat perempuan yang ditemukan dalam karung di bawah jembatan di Dusun Bulurejo, Desa/Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri akhirnya terungkap. Mayat perempuan itu bernama Sofiatun warga setempat. Diduga Sofiatun korban perampokan dan disertai pembunuhan.

Pasalnya perhiasan yang dikenakan korban berdasarkan pengakuan keponakannya yang bernama Nurmudi raib. Saat terakhir bertemu pada Sabtu (20/3/2010) pagi, Sofitun terlihat sehat dan menggunakan perhiasannya dari kalung, gelang, cincin dan giwang.

"Ada gelang, kalung sampai giwang. Saya sendiri tidak tahu berapa nilainya, tapi kalau 5 jutaan mungkin ada," kata Nurmudi di sela-sela pemeriksaan di Mapolres Kediri, Senin (22/3/2010).

Dari pengakuan Nurmudi ini identitas perempuan malang itu diketahui. Dia melapor kepolisi kalau kehilangan anggota keluarganya. Setelah dilakukan pencocokan dengan ciri-ciri mayat semuanya terbukti benar. "Yang paling saya kenali bentuk mulutnya," ungkap Nurmudi.

Sementara itu Kapolres Kediri AKBP Benyamin mengungkapkan pihaknya masih belum memastikan apakah korban perampokan atau tidak. Pihaknya masih melakukan penyelidikan.

"Sekarang prosesnya kan belum selesai. Kalau saksi bilang demikian itu bahan bagi kami dan tentunya akan kami usahakan untuk membuktikannya," tutur Benyamin.

Benyamin mengaku pihaknya telah memanggil dan memeriksa sejumlah pihak, termasuk anak kandung korban. Hal ini diakui dilakukan tetap dengan mengedepankan azas praduga tak bersalah, dan dipilih dengan alasan mencari keterangan dari orang terdekat korban.

"Jangan diartikan terus pelakunya akan mengarah pada orang-orang yang diperiksa, karena memang penyelidikan masih berlangsung," tandasnya.

Jenazah Sofiatun ditemukan terbungkus dalam karung di bawah jembatan di Dusun Bulurejo, Desa/Kecamatan Badas, Minggu (21/3/2010). Saat ditemukan di sekujur tubuh korban ditemukan sejumlah luka, diantaranya bekas jeratan di leher, luka lebam di bagian wajah dan sejumlah bagian tubuh lainnya.

sumber: http://id.news.yahoo.com/dtik/20100322/tid-identitas-mayat-perempuan-dalam-karu-b1ae096.html
READ MORE»

Ular Pemangsa Pelajar di Tembung Masih Bersembunyi


Medan (ANTARA) - Ular phyton besar yang memangsa pelajar SMP PGRI, M Zakaria (13) saat mandi di Sungai Tembung, Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara diperkirakan masih bersembunyi di dalam terowongan air pembuangan limbah.

Hingga Senin pagi (22/3) lokasi tewasnya M Zakaria penduduk Pasar VIII Desa Sei Rotan, Kecamatan Percut Sei Tuan, masih dipenuhi warga yang datang dari berbagai daerah, sehingga polisi harus mengamankan lokasi tersebut.

Darmin Nasution (60) salah seorang warga yang sudah hampir 50 tahun tinggal di Tembung, Kabupaten Deli Serdang, Sumut, mengatakan baru kali ini mengetahui seekor ular phyton sepanjang tujuh meter memangsa pelajar SMP di daerah itu.


"Kejadian aneh ini merupakan peristiwa yang cukup langka, dan jarang terjadi sepanjang hidup saya yang tinggal tidak berapa jauh dari Sungai Tembung tersebut," kata Darmin dalam perbincangannya di Tembung, Senin.

Sungai Tembung, Kamis petang (18/3) menggegerkan warga di daerah tersebut setelah seekor ular piton ukuran besar dan panjang tujuh meter lebih memangsa pelajar SMP yang sedang mandi-mandi dengan tiga temannya yang baru pulang sekolah.

Ular piton itu, dengan ganasnya melilit korban yang sedang berusaha melarikan diri dari dalam sungai tersebut.

Selain itu, menurut Nasution, ular yang dalam keadaan kelaparan itu juga membanting-bantingkan korban di dalam sungai, sehingga akhirnya lemas.

Sementara itu, tiga rekan korban yang berhasil keluar dari sungai berusaha minta bantuan pada warga yang tinggal tidak berapa jauh dari lokasi kejadian tersebut.

Selanjutnya, masyarakat dengan menggunakan bambu runcing menombak bagian kepala dan badan ular itu agar mau melepaskan korbannya.

Namun akhirnya, usaha yang dilakukan warga itu tidak sia-sia, karena saat itu juga ular tersebut melepaskan korban yang sudah dalam keadaan remuk dan tidak bernyawa lagi.

Korban yang dilepaskan dari mulut ular yang dalam keadaan mengganas itu, menurut Nasution, nyaris saja menelan pelajar SMP tersebut.

Kemudian ular tersebut, menghilang dan menyelam masuk ke terowongan tempat persembunyiannya dan sampai saat ini tidak pernah keluar.

Selanjutnya, ia menjelaskan, warga yang mengetahui ular memangsa pelajar SMP itu, juga tidak mau tinggal diam, mereka minta bantuan beberapa pawang ular untuk bisa menangkap ular yang berada di Sungai Tembung.

Kemudian, Jumat, (19/3) sekitar pukul 19:30 WIB, pawang ular yang bekerja ekstra keras yang dibantu beberapa masyarakat akhirnya berhasil menjerat ular ukuran besar itu dari tempat persembunyiannya di dalam sungai.

Ular tersebut berhasil dijerat dengan tali yang sudah dipersiapkan, setelah lebih dulu diberi umpan berupa seekor ayam.

Selanjutnya, ular yang berhasil ditangkap itu dimasukkan kedalam goni dan dibawa ke kantor Polsek Percut Sei Tuan untuk diamankan.

Namun, menurut pawang ular yang menangkap ular itu. Ular yang dijerat itu, bukan ular yang memangsa pelajar SMP, tetapi ular lain yang hidup di Sungai Tembung.

Menurut pawang itu, ada dua ekor lagi ular besar yang masih hidup di Sungai Tembung itu, salah satunya ular yang memangsa pelajar SMP.

Selanjutnya Nasution mengatakan, peristiwa ular yang memangsa seorang pelajar SMP itu, benar-benar termasuk peristiwa aneh di daerah ini, karena setiap harinya Sungai Tembung itu dijadikan warga sebagai tempat mandi dan mencuci pakaian.

Namun, tidak pernah warga ada yang melihat ular atau diganggu binatang lainnya yang ada di sungai itu.

"Saya benar-benar terkejut mengetahui ada ular yang memangsa pelajar SMP hingga tewas. Hal ini adalah kejadian yang luar biasa sepanjang hidup saya yang sudah puluhan tahun lamanya tinggal di Tembung," katanya.

Apalagi, menurut dia, lokasi Sungai Tembung itu, hanya berjarak lebih kurang 200 meter dari rumahnya.

"Kadang-kadang saya juga sering mandi di Sungai Tembung ini, tetapi belum pernah melihat seekor ular pun.Kejadian ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya, ke depan jangan ada lagi korban yang dimangsa ular," kata Nasution.

sumber: http://id.news.yahoo.com/antr/20100322/tid-ular-pemangsa-pelajar-di-tembung-mas-f9ffe45.html
READ MORE»

[ngakak-pic] Beginilah Jadinya Kalau Satu MOtor di Boncengin 8 Orang

Pernah ngeliat motor biasa yang ditumpangin 8 orang, gimana kebayang gak ...ini lah gambar gokil alias ngakak itu... ayoo tengok rame2


ngakak

http://www.flixya.com/photo/1236396/Amazing_Autos_But_Insured

READ MORE»

Ulil JIL: Dunia Islam Paling Banyak Melanggar HAM, Harus Berguru pada Obama

SEMAKIN banyak berbicara, semakin terlihat kejahilannya. Itulah ciri khas kelompok liberalis. Setidak-tidaknya, itu diperlihatkan Ulil Abshar Abdalla dalam acara “Debat Kontroversi kedatangan Obama” di studio TVOne, Jakarta, Rabu (17/3/2010).
Dalam debat bertema “Obama Disayang Obama Ditentang” itu dihadiri dua kubu yang saling berseberangan. Dari pihak yang mendukung kedatangan Obama ke Indonesia, tampil dua narasumber: Ulil Abshar (Jaringan Islam Liberal) dan Effendy Choirie (Partai Kebangkitan Bangsa), sedangkan dari pihak yang menolak Obama diwakili oleh dua narasumber: Ismail Yusanto (Hizbut Tahrir Indonesia), Ali Mocthar Ngabalin (Partai Bulan Bintang).

Debat yang disiarkan secara langsung mulai pukul pukul 19.30 WIB itu dibagi dalam dua sesi yang diselingi dengan berbagai iklan. Pada sesi pertama, Ismail Yusanto berdebat dengan Ulil Abshar, disusul dengan debat sesi kedua antara Ali Mochtar Ngabalin dengan Effendy Choirie.
Ulil Abshar berapi-api menyatakan dukungannya terhadap rencana kedatangan Obama ke Indonesia, dengan ungkapan khas Arab “ahlan wa sahlan bihuduri Obama.”
Sebagai anak didik Amerika, agaknya bisa dimaklumi bila Ulil sangat memuji Obama dan Amerikanya. Mungkin itulah apresiasi balas jasa yang dipersembahkan kepada negara yang telah memberikan beasiswa program magister di Universitas Boston, dan studi tingkat PhD di Department of Near Eastern Languages and Civilizations di Universitas Harvard.

Tapi Ulil –yang lama hidup di negara Amerika– itu menjadi sangat tidak wajar jika ia tidak tahu tentang Amerika. Berangkat dari ketidaktahuan itulah, Ulil memuji Amerika sembari menghina Islam, lalu menganjurkan umat Islam supaya belajar (baca: berkiblat) ke Amerika dalam mengatasi masalah diskriminasi.
“Ada pelajaran penting yang bisa diambil dari pengalaman Obama di Amerika.
Ini luar biasa. Jadi orang Islam harus belajar bagaimana mereka mengatasi diskriminasi. Di dalam negara Islam itu diskriminasi masih banyak sekali,” kata Ulil.
Tak puas menyebut kaum Muslimin sebagai negara yang kaya diskriminasi, menantu Kiyai Mustafa Bisri ini bahkan menyebut dunia Islam paling banyak mengoleksi pelanggaran HAM.

…Pelanggaran HAM paling banyak di dunia Islam. Umat Islam harus belajar kepada Amerika, tegas Ulil…

“Pelanggaran HAM paling banyak itu di dunia Islam. Umat Islam harus belajar. Ada hal positif yang bisa diambil dari Amerika,” tegasnya.
Menanggapi tudingan Ulil terhadap umat Islam, Ismail Yusanto menjawab dengan santai. Juru bicara HTI ini tidak membantah langsung, tapi membandingkan pendapat Ulil yang bertolak belakang dengan data Amnesti Internasional.
“Itu tadi menurut Ulil. Bahwa pelanggaran HAM itu paling banyak di negeri Islam. Tapi menurut Amnesti Internasional, pelanggaran HAM terbesar di dunia itu Amerika, yang sekarang presidennya Barrack Obama,” jelas dia.

“Mana yang lebih kredibel, Saudara Ulil atau Amnesti Internasional?” tanya dia.

Ulil nampak kaget dan tidak percaya dengan pernyataan jubir HTI itu. Ulil rupanya belum pernah membaca data Amnesti Internasional bahwa Amerika adalah pelaku pelanggaran HAM terbesar di dunia. Ulil pun tidak terima jika bapak asuhnya disebut sebagai pelanggar HAM terbesar di dunia.

“Saya minta dibuktikan kalau data itu ada,” protes dia.

“Silakan, itu sudah berulangkali dilansir di media,” jawab Ismail.

Ulil yang belum membaca data itu, spontan berkata, “Saya sih nggak percaya!”
Pada debat sesi kedua, meski yang dihadapinya bukan Ulil, tapi Ali Mukhtar Ngabalin masih menyempatkan untuk menyindir Ulil. Tidak terima umat Islam disuruh belajar kepada Amerika untuk mengatasi diskriminasi dan pelanggaran HAM, salah satu pendiri Gerakan Indonesia Bersih (GIB) ini menyemprot Ulil agar jangan menjadi “jongos” Amerika, sembari mengutip petuah Bung Karno.
“Ingat pesan Soekarno, kita boleh berteman dengan Amerika, tapi jangan mentang-mentang menerima beasiswa dari Amerika, kemudian menjadi jongos Amerika!” tegasnya.

…Jangan mentang-mentang menerima beasiswa dari Amerika, kemudian menjadi jongos Amerika!” tegas Ali Mochtar…

Ia juga mengingatkan agar para intelektual tidak berpikir picik menjadi boneka Amerika hanya karena dapat beasiswa dari Amerika.

“Jangan mentang-mentang belajar di Amerika kemudian menjadi corong Amerika, menjadi boneka,” ujarnya.

Mantan anggota DPR RI dari PBB ini juga memperingatkan bahwa sejak dulu kedatangan presiden Amerika ke Indonesia tidak pernah membawa manfaat bagi Indonesia, malah memperluas jajahannya. Antara lain Obama datang ke Indonesia dalam rangka evaluasi terhadap kontrak kerja Freeport, Chievron, ExxonMobil, dll. Kembali, ia mengingatkan petuah Bung Karno.

“Soekarno pernah mengajarkan kepada kita, Amerika itu tidak pernah menawarkan sesuatu yang baik kepada negara-negara berkembang atau dunia ketiga. Itu sebabnya, Amerika harus kita setrika, Inggris kita linggis! Masak kita intelektual masak berpikir sepicik itu?” pungkasnya.

Amnesti Internasional: AS Terbanyak Langgar HAM dalam 50 tahun terakhir

AMNESTI INTERNASIONAL

Dalam konferensi pers di London (26/5/2004), Amnesti Internasional, sebuah LSM HAM internasional yang berbasis di London ini melaporkan bahwa Amerika Serikat (AS) adalah pelaku pelanggaran HAM terburuk di seluruh dunia, selama 50 tahun terakhir, sejak negara adidaya itu mengeluarkan kebijakan perang terhadap terorisme dan invasinya ke Iraq. Berita ini dilansir berbagai media internasional semisal AFB, BBC, dan lain-lain.

Sekjen Amnesti International, Irene Khan mengatakan, negara-negara berkuasa yang menyumbangkan pasukan tentara untuk Iraq telah mengabaikan hukum internasional dengan mengorbankan HAM secara `membabi-buta’ atas nama keamanan.

“Agenda keamanan dunia yang diperjuangkan oleh AS tidak mempunyai visi dan prinsip yang jelas,” kata Irena.

“Perbuatannya melanggar HAM di negara sendiri, sikapnya menutup mata terhadap insiden-insiden dan penyiksaan di luar negeri serta penggunaan kekerasan pasukan dengan sewenang-wenang telah menggugat keadilan serta menjadikan dunia ini lebih berbahaya,” katanya.

Laporan tersebut juga mengungkapkan butir-butir terperinci mengenai pembunuhan warga sipil oleh pasukan penjajah AS di Iraq dan juga mengenai siksaan yang pasukannya atas tahanan Iraq.

…Lebih dari 600 warga negara asing ditahan tanpa tuduhan yang jelas atau proses hukum, di penjara Guantanamo, Kuba. AS juga menahan sejumlah tawanannya di beberapa lokasi yang tidak diketahui…

Invasi dan penguasaan wilayah Iraq oleh otoritas yang dibentuk negara-negara koalisi, menyebabkan ribuan orang di Iraq ditahan. Laporan itu juga menyebutkan, ratusan orang dari sekitar 40 negara, dipenjarakan AS tanpa proses hukum di Afghanistan.

Laporan Amnesti International itu juga menyentil sikap AS terhadap ratusan orang dari berbagai belahan dunia yang terus ditahan oleh AS tanpa dakwaan di Guantanamo, Kuba.

“Lebih dari 600 warga negara asing ditahan tanpa tuduhan yang jelas atau proses hukum, di penjara Guantanamo, Kuba. Mereka tidak diberi akses ke keluarga atau ke penasihat hukum. Orang-orang ini ditahan atas dugaan terkait dengan Al-Qaeda. Selain di Guantanamo, diduga AS menahan sejumlah tawanannya di beberapa lokasi yang tidak diketahui,” papar laporan tersebut.
Irene menyatakan, perang terhadap terorisme seharusnya dibarengi dengan upaya melindungi hak asasi manusia, tapi pada kenyataannya, kampanye antiterorisme dan perlindungan terhadap hak asasi manusia, saling bertentangan.

Irena mengatakan, dunia telah melihat kenyataan yang sebenarnya, setelah foto-foto penyiksaan dan pelecehan di penjara Abu Guraib tersebar di masyarakat luas. Ini adalah konsekuensi logis, dari perburuan yang membabi buta yang dilakukan AS sejak peristiwa 11 September. AS telah mengabaikan dan menempatkan dirinya diluar sistem hukum yang ada.

…AS telah kehilangan moral dan potensinya untuk melakukan segalanya dengan cara yang damai, kata Irene…

“AS telah kehilangan moral dan potensinya untuk melakukan segalanya dengan cara yang damai,” kata Irene dalam keterangan persnya di London.

Amnesti Internasional menyatakan, pihak Departemen Kehakiman AS telah mengakui ada problem besar dalam menangani ratusan tahanan warga negara asing sejak peristiwa 11 September.

Selain tidak memberikan akses pada keluarganya, AS juga tidak memberi akses agar para tahanan bisa didampingi pengacara agar proses hukumnya bisa segera dilakukan. Selain itu, bukti-bukti menunjukkan adanya pola penyiksaan fisik maupun verbal yang dilakukan oleh para penyidik.

Amnesti Internasional juga memaparkan pelanggaran Ham lainnya yang dilakukan AS, antara lain, penahanan sekitar 6.000 anak-anak migran dengan tuduhan melakukan kenakalan remaja. Anak-anak ini ditahan sampai berbulan-bulan.

Disamping itu, polisi dan penjaga penjara di AS, telah menyalahgunakan senjata dan menggunakan bahan kimia terhadap para tahanannya, yang menyebabkan kasus tewasnya sejumlah tahanan di penjara AS.

…Amnesti Internasional juga memaparkan pelanggaran Ham lainnya yang dilakukan AS, antara lain, penahanan sekitar 6.000 anak-anak migran dengan tuduhan kenakalan remaja, sampai berbulan-bulan…

Amnesti Internasional juga mengkritisi penerapan hukuman mati di AS. Sepanjang tahun 2003, sudah 65 orang yang menjalani hukuman mati di AS. Total, sudah ada 885 orang yang menjalani hukuman mati sejak AS menerapkan kembali hukuman itu pada tahun 1976. AS dinilai juga telah melanggar aturan internasional dalam menerapkan hukuman mati ini, karena telah mengenakkannya pada anak dibawah umur 18 tahun.

Yang paling hangat, Amnesti Internasional, mengkritik AS karena berupaya mendapatkan kekebalan hukum dari pengadilan internasional bagi tentaranya yang melakukan kejahatan perang. [taz/dari berbagai sumber]

suber : voa-islam
http://mpiuika.wordpress.com/2010/03/18/ulil-jil-dunia-islam-paling-banyak-melanggar-ham-harus-berguru-pada-obama/
READ MORE»

[pic]Polres Aceh Tengah Sisir Uning Niken - Komplotan Bersenjata Sandera Dua Warga


TAKENGON – Hampir setengah hari, Senin (15/3), puluhan polisi bersenjata lengkap dari Polres Aceh Tengah menyisir kawasan Mergut, Kampung Uning Niken, Kecamatan Bies, Kabupaten Aceh Tengah untuk memburu komplotan tak dikenal yang sempat menyandera dua warga Takengon. Namun penyisiran yang berlangsung sejak pukul 11.00 hingga 15.00 WIB itu gagal menemukan komplotan yang dilaporkan memiliki 10 pucuk senjata api tersebut.

Penyisiran kawasan Mergut di Kampung Uning Niken yang dipimpin Kapolres Aceh Tengah, AKBP Edwin Rachmat Adikusumo dilakukan untuk menindaklanjuti laporan warga yang mengaku sempat disandera oleh tujuh orang bersenjata, Kamis (11/3). Belum diketahui apakah komplotan itu ada kaitan dengan jaringan teroris yang saat ini sedang gencar diburu. Namun menurut kesaksian korban penyanderaan, komplotan itu memiliki sekitar sepuluh pucuk senjata laras panjang dan dua pucuk laras pendek.

Cerita penyanderaan
Kapolres Aceh Tengah kepada Serambi dan sejumlah wartawan lainnya di lokasi penyisiran mengatakan, pada hari Kamis (11/3), dua warga Takengon mengaku disandera dua jam oleh komplotan bersenjata. Kasus itu terjadi ketika kedua warga yang tak disebutkan identitasnya itu melintas di jalan dekat kawasan Mergut, Kampung Uning Niken, sekitar pukul 17.30 WIB. Mereka dicegat oleh seorang tak dikenal dan dibawa ke arah perkebunan kopi yang berjarak sekitar 300 meter dari jalan utama.

Ketika berada di lokasi perkebunan kopi, kedua korban melihat ada tujuh orang berbadan tegap sudah menunggu. Korban juga mengaku sempat melihat tumpukan senjata laras panjang dan pendek yang diyakini milik komplotan itu. Tak terlalu jelas apa target komplotan itu menyandera kedua warga Takengon tersebut. Tetapi kedua korban mengaku selama berada bersama orang tak dikenal itu tidak diapa-apain, kecuali ditanya di mana tinggal dan sekolah.

“Mereka hanya meminta uang Rp 30.000 dan meminjam HP namun HP itu dikembalikan lagi,” ujar salah seorang korban yang ikut mendampingi polisi ketika penyisiran. Korban juga menunjuk titik penumpukan senjata dan lokasi mereka disandera. Penyanderaan itu hanya berlangsung sekitar dua jam, sebab pada pukul 19.30 WIB, kedua korban diantar kembali oleh anggota komplotan itu ke jalan tempat mereka diambil.

Sayangnya, kata Kapolres Aceh Tengah, pascapenyanderaan itu, kedua korban tak berani melapor ke polisi dengan alasan takut. Polres Aceh Tengah baru menerima informasi kasus itu beberapa hari setelah kejadian. “Berdasarkan informasi itu, kita langsung bergerak ke lokasi melakukan penyisiran,” kata Kapolres Aceh Tengah, AKBP Edwin Rachmat Adikusumo.

Setelah sekitar empat jam menyisir kawasan Mergut, puluhan personel Polres Aceh Tengah kembali berkumpul di salah satu pos polisi. Kapolres mengingatkan kepala kampung dan masyarakat agar mewaspadai warga tidak dikenal yang masuk kampung. “Tanyakan identitas dan keperluan jika melihat orang asing yang masuk ke kampung-kampung demi mengantisipasi berbagai kemungkinan yang tak diinginkan,” tegas Kapolres Aceh Tengah.

Razia di Abdya
Dari Blangpidie dilaporkan, Polres Aceh Barat Daya (Abdya) meningkatkan razia di jalan raya sebagai antisipasi masuknya kelompok teroris. Seperti halnya Selasa (16/3), razia terlihat di depan Mapolsek Babahrot, kawasan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Darul Makmur (Alue Bilie), Kabupaten Nagan Raya.

Sasaran razia adalah memeriksa kendaraan yang melintas di jalan nasional jalur barat-selatan. Menurut Kapolres Abdya, AKBP Eddy Djuneidi SIK kepada Serambi, razia melibatkan personel Polsek Babahrot dan Polsek Kuala Batee didukung personel Polres. Pemeriksaan kendaraan dilaporkan berlangsung hingga tadi malam. “Razia kita laksanakan sejak beberapa saat pascakontak tembak antara komplotan yang diduga teroris dengan aparat Polsek Leupueng, Aceh Besar, beberapa hari lalu,” kata Kapolres Abdya.

Kendati belum menemukan orang yang mencurigakan, namun Kapolres Abdya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. “Bila melihat hal-hal mencurigakan atau kejanggalan, segera memberikan informasi kepada polisi terdekat,” kata Kapolres Eddy Djuneidi.(c35/nun)

source:http://www.serambinews.com/news/view/26372/polres-aceh-tengah-sisir-uning-niken
READ MORE»
Copyright 2011 Looking News - Template by Kautau Dot Com